A.
PENGERTIAN SISTEM EKONOMI
Sistem adalah sekumpulan unsur, unsur – unsur tersebut
memiliki fungsi yang saling terkait dalam aktivitasnya untuk mencapai suatu
tujuan. Ekonomi adalah kegiatan manusia yang berkaitan dengan usahanya dalam
memenuhi kebutuhannya demi mencapai kesejahteraan, yang meliputi 3 kegiatan
utama, yaitu : produksi, distibusi, dan konsumsi. Jadi sistem ekonomi adalah
sistem/fungsi yang digunakan oleh sebuah negara guna melaksanakan aktivitas
perekonomiannya demi terwujudnya tujuan negara(bersama), yaitu terciptanya
kesejahteraan/kemakmuran rakyat.
B.
PERKEMBANGAN SISTEM EKONOMI INDONESIA
1. Masa Penjajahan
Saat masih dalam penjajahan, perekonomian Indonesia dikuasai
oleh negara asing (penjajah). Pada zaman penjajahan Belanda untuk mengilangkan
persaingan perdagangan belanda membentuk VOC untuk memonopoli perdagangan di
Indonesia. VOC memiliki Hak Octrooi, yang berisi :
1.
Hak mencetak uang
2.
Hak mengangkat dan memberhentikan pegawai
3.
Hak menyatakan perang dan damai
4.
Hak untuk membuat angkatan bersenjata sendiri
5.
Hak untuk membuat perjanjian dengan raja-raja
Namun VOC ini runtuh karena Lan Rent (Pajak tanah)
-
Adanya korupsi
-
Kalah dalam peperangan
2. Orde Lama
Setelah Kemerdekaan kondisi perekonomian
Indonesia sangat buruk, terjadi inflasi yang sangat tinggi karena ada 3 mata
uang yang berlaku di Indonesia yaitu (mata uang jepan, belanda, dan deavanis)
yang nantinya akan menjadi bank Indonesia dalam mata uang Rupiah.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi
kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain:
Mentri keuangan Ir. Surachman atas persetujuan BP- KNIP
melakukan pinjaman ke negara lain pada bulan Juli 1946.
Mengadakan diplomasi beras ke India, mengadakan kontak
dengan perusahaan swasta Amerika
Konferensi Ekonomi pada Februari 1946 dengan tujuan
memperoleh kesepakatan dalam masalah produksi dan distribusi makanan, masalah
sandang, serta status dan administrasi perkebunan-perkebunan.
Pembentukan Planning Board (Badan Perancang Ekonomi) pada 19
Januari 1947
Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang pada tahun
1948 dengan cara mengalihkan individu bekas angkatan perang ke bidang-bidang
produktif.
Kasino Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan
dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis.
·
Masa Demokrasi Liberal (1950-1957)
Menggunakan prinsip – prinsip liberal yaitu Perekonomian
diserahkan pada pasar, namun system itu tidak cocok dengan Indonesia dan
akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru
merdeka.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi
pada saat itu adalah:
Gunting Syarifuddin, yaitu pemotongan nilai mata uang (sanering)
untuk mengurangi jumlah uang yang
beredar agar tingkat harga turun.
Program Benteng (Kabinet Natsir), yaitu upaya menumbuhkan
semangat berwirausaha para pengusaha pribumi dan mendorong importir nasional
agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang
tertentu, namun usaha ini gagal karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung
konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha non-pribumi.
Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada
15 Desember 1951 lewat UU no.24th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral
dan bank sirkulasi.
Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I), yaitu
penggalangan kerjasama antara pengusaha Cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha
non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan kepada pengusaha pribumi.
Pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi pengusaha swasta nasional.
Program ini tidak berjalan dengan baik karena pengusaha pribumi kurang
berpengalaman sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit
dari pemerintah.
Pembatalan sepihak atas hasil perjanjian KMB, termasuk
pembubaran Uni Indonesia-Belanda. Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang
menjual perusahaannya sedangkan pengusaha – pengusaha pribumi belum bisa
mengambil alih perusahaan – perusahaan tersebut.
·
Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967)
segala urusan diatur oleh pemerintah, system ini diharapkan
membawa pada kemakuran bersama dalam social politik ekonomi. Namun kebijakan
ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan
ekonomi Indonesia. Kebijakan – kebijakan tersebut antara lain :
Devaluasi -> pada 25 Agustus 1959 pemerintah menurunkan
nilai uang sebagai berikut : uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50,00; uang
kertas pecahan Rp 1.000,00 menjadi Rp 100,00; dan semua simpanan di bank yang
melebihi Rp 25.000,00 dibekukan.
Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap
ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya justru
mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga
barang – barang naik 400%.
Devaluasi -> pada 13 Desember 1965 pemerintah menjadikan
uang senilai Rp 1.000,00 menjadi Rp 1,00 sehingga uang Rupiah baru mestinya
dihargai 1000 kali lipat uang Rupiah lama, tetapi di masyarakat uang Rupiah
baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Tindakan pemerintah untuk
menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi.
3. Orde Baru
Pada masa ini, sistem ekonomi Indonesia ditujukan pada
pembangunan dalam segala bidang namun dalam kenyataannya perekonomian Indonesia
malah semakin parah karena KKN.
4. Masa Reformasi
Masa Pemerintahan Presiden BJ. Habibie yang mengawali masa
reformasi belum melakukan manuver – manuver yang cukup tajam dalam bidang
ekonomi. Kebijakan – kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan stabilitas
politik.
Masa Pemerintahan Presiden
Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk
menyelamatkan ekonomi Indonesia dari keterpurukan padahal ada berbagai
persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain :
masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN,
pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah.
Masa Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri
Masalah – masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah
pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. Kebijakan-kebijakan
yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain :
Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 Milyar
pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri
sebesar Rp 116.3 triliun.
Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual
perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan
negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban negara.
Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi
4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena BUMN yang
diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.
Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi
Pemberantasan Korupsi), tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan
korupsi. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali
untuk menanamkan modal di Indonesia dan mengganggu jalannya pembangunan
nasional.
Masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Kebijakan kontroversial pertama presiden Yudhoyono adalah
mengurangi subsidi BBM, dengan kata lain menaikkan harga BBM. Kebijakan ini
dilatarbelakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM
dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan serta bidang – bidang yang
mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai
(BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak
dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial, seperti ribut saat
mengantri yang bahkan berujung pada hilangnya nyawa seseorang.
Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan
perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki
iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannyaIndonesian Infrastructure
Summit pada bulan November 2006 lalu yang mempertemukan para investor
dengan kepala-kepala daerah.
Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama investor asing, yang salahsatunya adalah revisi undang – undang ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah.
Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama investor asing, yang salahsatunya adalah revisi undang – undang ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah.
PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH DAN
OTONOMI DAERAH
1. Pembangunan Ekonomi Regional
Perkembangan teori ekonomi pertumbuhan dan meningkatnya
ketersediaan data daerah mendorong meningkatnya perhatian terhadap
ketidakmerataan pertumbuhan daerah. Teori ekonomi pertumbuhan dimulai oleh
Robert Solow yang dikenal dengan Model pertumbuhan neo-klasik. Dan beberapa
ahli ekonomi Amerika mulai menggunakan teori pertumbuhan tersebut dengan
menggunakan data-data daerah.
Untuk melihat ketidaknmerataan pertumbuhan regional dapat ditentukan dengan beberapa cara. Secara umum dalam menghitung pertumbuhan dengan; 1. pertumbuhan output; 2. pertumbuhan output per pekerja; dan, 3. pertumbuhan output perkapita. Pertumbuhan output digunakan untuk mengetahui indikator kapasitas produksi. Pertumbuhan output per pekerja seringkali digunakan untuk mengetahui indikator dari perubahan tingkat kompetitifitas daerah, sedangkan pertumbuhan output perkapita digunakan sebagai indikator perubahan dari kesejahteraan
Perkembangan teori ekonomi pertumbuhan dan meningkatnya ketersediaan data daerah mendorong meningkatnya perhatian terhadap ketidakmerataan pertumbuhan daerah. Teori ekonomi pertumbuhan dimulai oleh Robert Solow yang dikenal dengan Model pertumbuhan neo-klasik. Dan beberapa ahli ekonomi Amerika mulai menggunakan teori pertumbuhan tersebut dengan menggunakan data-data daerah.
Untuk melihat ketidaknmerataan pertumbuhan regional dapat ditentukan dengan beberapa cara. Secara umum dalam menghitung pertumbuhan dengan; 1. pertumbuhan output; 2. pertumbuhan output per pekerja; dan, 3. pertumbuhan output perkapita. Pertumbuhan output digunakan untuk mengetahui indikator kapasitas produksi. Pertumbuhan output per pekerja seringkali digunakan untuk mengetahui indikator dari perubahan tingkat kompetitifitas daerah, sedangkan pertumbuhan output perkapita digunakan sebagai indikator perubahan dari kesejahteraan .
Model Pertumbuhan Regional
Fungsi produksi agregat merupakan dasar dari model pertumbuhan neoklasik. Hubungan tersebut ditujukkan dalam bentuk sebagai berikut:
Y = F(K,L)
Dimana, Y adalat output riil, K adalah capital stock, dan L adalah tenaga kerja.
Dalam bentuk Cobb Douglas dengan asumsi constant return to scale yaitu;
Y = AKαL1-α
y = Akα , dimana y = K/L dan k = K/L
Fungsi produksi perkapita menunjukan bahwa output per pekerja hanya akan meningkat jika modal per pekerja meningkat. Dengan kata lain modal harus terus tumbuh lebih cepat daripada penawaran tenaga kerja dari output per pekerja.
Agar lebih realistis maka model neoklasik diatas harus ditambah dengan efek apabila adanya teknologi pada pertumbuhan output.
Y = F(A,K,L), dimana A adalah technical knowledge (teknologi).
Dalam bentuk Cobb-Douglas,
Y = AegtKαL1-α
dimana g adalah technical progress per time period t, selanjutnya dengan aplikasi matematika kita jadikan dalam model pertumbuhan;![[Pertumbuhan1.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZrcUD-OryHey-oEJmnHHUTsqkxWoosw284oIxIEM6G5ugXgpzwBo1ADAKovk7HNOYbAzqnC_qUBRz4YVYWH9U7haF1oEtmSVxbFb4YT2hLq77Xs13lbI4dkP2c8MbnYFtWXwEnykcEjc/s320/Pertumbuhan1.jpg)
dimana, ∆Y/Y, ∆K/K, dan ∆L/L adalah given.
Selanjutnya dengan merubah dalam bentuk model region (daerah), dengan g adalah perubahan rate of technical dan r notasi untuk regional,![[Pertumbuhan2.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyB6tUOGEZmMwUKLr1I0zfE2mLzEx10ncoQBvvcc7F81QckjKl81taeU76iAvQb2rnM9Ada9L-HHZXPdBozfULL-qUfR4Jn3-Li6h0YJhC522tyoMCtCMZQ5_yBseSLuq6KZkr54UwANY/s320/Pertumbuhan2.jpg)
Dari bentuk neoklasik diatas, kita dapat mengidentifikasi tiga alasan terjadinya ketidakmerataan pertumbuhan regional yaitu;
1. Technical progress berubah diantara region;
2. Pertumbuhan capital stock berubah diantara region;
3. Pertumbuhan tenaga kerja berubah diantara region.
gr pada region r diharapkan berubah diantara region (paling tidak dalam jangka menengah).
Untuk melihat ketidaknmerataan pertumbuhan regional dapat ditentukan dengan beberapa cara. Secara umum dalam menghitung pertumbuhan dengan; 1. pertumbuhan output; 2. pertumbuhan output per pekerja; dan, 3. pertumbuhan output perkapita. Pertumbuhan output digunakan untuk mengetahui indikator kapasitas produksi. Pertumbuhan output per pekerja seringkali digunakan untuk mengetahui indikator dari perubahan tingkat kompetitifitas daerah, sedangkan pertumbuhan output perkapita digunakan sebagai indikator perubahan dari kesejahteraan
Perkembangan teori ekonomi pertumbuhan dan meningkatnya ketersediaan data daerah mendorong meningkatnya perhatian terhadap ketidakmerataan pertumbuhan daerah. Teori ekonomi pertumbuhan dimulai oleh Robert Solow yang dikenal dengan Model pertumbuhan neo-klasik. Dan beberapa ahli ekonomi Amerika mulai menggunakan teori pertumbuhan tersebut dengan menggunakan data-data daerah.
Untuk melihat ketidaknmerataan pertumbuhan regional dapat ditentukan dengan beberapa cara. Secara umum dalam menghitung pertumbuhan dengan; 1. pertumbuhan output; 2. pertumbuhan output per pekerja; dan, 3. pertumbuhan output perkapita. Pertumbuhan output digunakan untuk mengetahui indikator kapasitas produksi. Pertumbuhan output per pekerja seringkali digunakan untuk mengetahui indikator dari perubahan tingkat kompetitifitas daerah, sedangkan pertumbuhan output perkapita digunakan sebagai indikator perubahan dari kesejahteraan .
Model Pertumbuhan Regional
Fungsi produksi agregat merupakan dasar dari model pertumbuhan neoklasik. Hubungan tersebut ditujukkan dalam bentuk sebagai berikut:
Y = F(K,L)
Dimana, Y adalat output riil, K adalah capital stock, dan L adalah tenaga kerja.
Dalam bentuk Cobb Douglas dengan asumsi constant return to scale yaitu;
Y = AKαL1-α
y = Akα , dimana y = K/L dan k = K/L
Fungsi produksi perkapita menunjukan bahwa output per pekerja hanya akan meningkat jika modal per pekerja meningkat. Dengan kata lain modal harus terus tumbuh lebih cepat daripada penawaran tenaga kerja dari output per pekerja.
Agar lebih realistis maka model neoklasik diatas harus ditambah dengan efek apabila adanya teknologi pada pertumbuhan output.
Y = F(A,K,L), dimana A adalah technical knowledge (teknologi).
Dalam bentuk Cobb-Douglas,
Y = AegtKαL1-α
dimana g adalah technical progress per time period t, selanjutnya dengan aplikasi matematika kita jadikan dalam model pertumbuhan;
![[Pertumbuhan1.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZrcUD-OryHey-oEJmnHHUTsqkxWoosw284oIxIEM6G5ugXgpzwBo1ADAKovk7HNOYbAzqnC_qUBRz4YVYWH9U7haF1oEtmSVxbFb4YT2hLq77Xs13lbI4dkP2c8MbnYFtWXwEnykcEjc/s320/Pertumbuhan1.jpg)
dimana, ∆Y/Y, ∆K/K, dan ∆L/L adalah given.
Selanjutnya dengan merubah dalam bentuk model region (daerah), dengan g adalah perubahan rate of technical dan r notasi untuk regional,
![[Pertumbuhan2.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyB6tUOGEZmMwUKLr1I0zfE2mLzEx10ncoQBvvcc7F81QckjKl81taeU76iAvQb2rnM9Ada9L-HHZXPdBozfULL-qUfR4Jn3-Li6h0YJhC522tyoMCtCMZQ5_yBseSLuq6KZkr54UwANY/s320/Pertumbuhan2.jpg)
Dari bentuk neoklasik diatas, kita dapat mengidentifikasi tiga alasan terjadinya ketidakmerataan pertumbuhan regional yaitu;
1. Technical progress berubah diantara region;
2. Pertumbuhan capital stock berubah diantara region;
3. Pertumbuhan tenaga kerja berubah diantara region.
gr pada region r diharapkan berubah diantara region (paling tidak dalam jangka menengah).
![[Pertumbuhan0.5.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1fnhHQYSLMzVB0VSPzNJ2cbALQFC1OiQP_cdyECH7pyec5weE0hrbmtIce6WBvgxJMtej2e_iONaqmYMi5X1qQ-IdcXFupUqO4aCfd1HhwBlbiS1P1c4adQZxKIK-bUdQJZmONRfYuog/s200/Pertumbuhan0.5.jpg)
Dengan memasukkan pertumbuhan tenaga kerja pada kedua sisi, kita
dapatkan;![[Pertumbuhan3.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgf8l6IRTBCa1PKIwy3vMYvhyVenit-tw8M-OZE0SNyJU3_nqGDoRdO2z_TPgjFRNdJPh0TScE4i4IzMZPttylzTBMgEubDXgUayeZQePqTxusMRrPsAx91quvb6Bh6J3UkpNEElfcH7E4/s320/Pertumbuhan3.jpg)
Selanjutnya, ketidamerataan regional dalam pertumbuhan output per tenaga kerja dapat dijelaskan oleh perbedaan regional dalam rate of technical progress dan oleh perbedaan regional dalam rasio pertumbuhan kapital/tenaga kerja.
Secara rinci faktor-faktor yang menyebabkan adanya disparitas pada pertumbuhan daerah dapat digambarkan pada bagan dibawah ini :![[Pertumbuhan4.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8ezTUtN2ExuyQGC3HFM7yIQI7omzZyUI4Gb99QISbjg4fS51s4AwbZGcSlneHbJmpasWcDpsrFsc4znAeauKk3TvrdWuJORtSydW-LcsZPsHqyRtW9F4-LvgUibJdTCeDv6ezmIR69pI/s320/Pertumbuhan4.jpg)
Dari gambar diatas ditunjukkan bahwa pertumbuhan output daerah menurut neoklasik di dasari oleh tiga komponen yaitu; pertumbuhan kapital stok, pertumbuhan tenaga kerja, dan perkembangan teknologi.
Pertumbuhan kapital stok daerah didorong dengan adanya investasi baik dari daerah itu sendiri atau daerah lain. Pertumbuhan tenaga kerja juga didorong oleh adanya migrasi tenaga kerja dari daerah lain karena adanya perbedaan upah relatif terhadap daerah lain disamping akibat tumbuhnya angkatan kerja baru karena pertumbuhan populasi. Untuk pertumbuhan teknologi tentunyajuga dipengaruhi oleh masuknya sumberdaya dari daerah lain dan perkembangan pendidikan atau pengetahuan melalui R&D.
Kajian Empiris di Indonesia
Dalam kajian Iyanatul Islam dari School of International Business and Asian Studies, Griffith University, Australia, menyebutkan bahwa ketidakmerataan antar daerah di Indonesia tidak menunjukkan gambaran yang semakin mencolok dari waktu ke waktu. Dikatakan bahwa adanya konvergensi di daerah, terutama pada pertengahan 1970-an serta dekade 1980-an dan 1990-an, dengan adanya pertumbuhan ekonomi daerah miskin yang lebih cepat dibandingkan daerah kaya. Namun proses konvergensi tersebut berjalan melambat sehingga diperlukan waktu yang lama untuk mengurangi kesenjangan pendapatan antar daerah. Analisis Takahiro Akita dan Armida S Alisjahbana (The Economic Crisis and Regional Inequality in Indonesia) menyebutkan sebelum krisis ekonomi, disparitas pendapatan antardaerah di Indonesia sedikit naik mulai tahun 1993 hingga 1997 .
Dari sisi technical progress secara empiris, Garcia dan Soelistianingsih (1998) telah mengestimasi pengaruh variabel modal manusia, fertilitas total, selain pangsa sektor minyak dan gas dalam PDRB untuk mengukur ketersediaan sumber daya alam terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Temuannya adalah bahwa investasi untuk pendidikan dan kesehatan memang dibutuhkan untuk mengurangi ketimpangan pendapatan daerah .
Sedangkan Wibisono (2001) memasukkan variabel-variabel educational attaintment (diukur dengan tingkat pendidikan yang berhasil ditamatkan), angka harapan hidup (life expectancy), tingkat fertilitas (fertility rate), tingkat kematian bayi (infant mortality rate), laju inflasi dan juga variabel dummy daerah juga terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Dari estimasi-estimasi yang dilakukan, diperoleh temuan bahwa variabel yang berpengaruh positif terhadap pertumbuhan adalah pendidikan, angka harapan hidup, dan tingkat kematian bayi. Sedangkan tingkat fertilitas dan laju inflasi memberikan efek negatif terhadap tingkat pertumbuhan pendapatan .
Berdasarkan data Indonesia Human Development Report 2002, tahun 2002 di Indonesia terdapat 341 daerah tingkat II, Aloysius Gunadi Brata (2004), dikatakan bahwa terdapat two-way relationship antara kinerja ekonomi daerah dengan pembangunan manusia .
Ketiga studi di atas juga mengkonfirmasi bahwa technical progress dalam bentuk modal manusia (human capital) mempunyai kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi dan berarti juga berguna untuk mempercepat proses pemerataan pendapatan antardaerah.
Dengan melihat teori dan kajian empirik diatas menunjukkan bahwa bagi pemerintah pusat, ketidakmerataan antarregion dan ketidakmerataan intraregion bukan merupakan trade off yang saling meniadakan. Karena kedua ketidakmerataan regional tersebut merupakan masalah yang harus diselesaikan karena terdapat keterkaitan antar kedua permasalahan tersebut.
![[Pertumbuhan3.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgf8l6IRTBCa1PKIwy3vMYvhyVenit-tw8M-OZE0SNyJU3_nqGDoRdO2z_TPgjFRNdJPh0TScE4i4IzMZPttylzTBMgEubDXgUayeZQePqTxusMRrPsAx91quvb6Bh6J3UkpNEElfcH7E4/s320/Pertumbuhan3.jpg)
Selanjutnya, ketidamerataan regional dalam pertumbuhan output per tenaga kerja dapat dijelaskan oleh perbedaan regional dalam rate of technical progress dan oleh perbedaan regional dalam rasio pertumbuhan kapital/tenaga kerja.
Secara rinci faktor-faktor yang menyebabkan adanya disparitas pada pertumbuhan daerah dapat digambarkan pada bagan dibawah ini :
![[Pertumbuhan4.jpg]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8ezTUtN2ExuyQGC3HFM7yIQI7omzZyUI4Gb99QISbjg4fS51s4AwbZGcSlneHbJmpasWcDpsrFsc4znAeauKk3TvrdWuJORtSydW-LcsZPsHqyRtW9F4-LvgUibJdTCeDv6ezmIR69pI/s320/Pertumbuhan4.jpg)
Dari gambar diatas ditunjukkan bahwa pertumbuhan output daerah menurut neoklasik di dasari oleh tiga komponen yaitu; pertumbuhan kapital stok, pertumbuhan tenaga kerja, dan perkembangan teknologi.
Pertumbuhan kapital stok daerah didorong dengan adanya investasi baik dari daerah itu sendiri atau daerah lain. Pertumbuhan tenaga kerja juga didorong oleh adanya migrasi tenaga kerja dari daerah lain karena adanya perbedaan upah relatif terhadap daerah lain disamping akibat tumbuhnya angkatan kerja baru karena pertumbuhan populasi. Untuk pertumbuhan teknologi tentunyajuga dipengaruhi oleh masuknya sumberdaya dari daerah lain dan perkembangan pendidikan atau pengetahuan melalui R&D.
Kajian Empiris di Indonesia
Dalam kajian Iyanatul Islam dari School of International Business and Asian Studies, Griffith University, Australia, menyebutkan bahwa ketidakmerataan antar daerah di Indonesia tidak menunjukkan gambaran yang semakin mencolok dari waktu ke waktu. Dikatakan bahwa adanya konvergensi di daerah, terutama pada pertengahan 1970-an serta dekade 1980-an dan 1990-an, dengan adanya pertumbuhan ekonomi daerah miskin yang lebih cepat dibandingkan daerah kaya. Namun proses konvergensi tersebut berjalan melambat sehingga diperlukan waktu yang lama untuk mengurangi kesenjangan pendapatan antar daerah. Analisis Takahiro Akita dan Armida S Alisjahbana (The Economic Crisis and Regional Inequality in Indonesia) menyebutkan sebelum krisis ekonomi, disparitas pendapatan antardaerah di Indonesia sedikit naik mulai tahun 1993 hingga 1997 .
Dari sisi technical progress secara empiris, Garcia dan Soelistianingsih (1998) telah mengestimasi pengaruh variabel modal manusia, fertilitas total, selain pangsa sektor minyak dan gas dalam PDRB untuk mengukur ketersediaan sumber daya alam terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Temuannya adalah bahwa investasi untuk pendidikan dan kesehatan memang dibutuhkan untuk mengurangi ketimpangan pendapatan daerah .
Sedangkan Wibisono (2001) memasukkan variabel-variabel educational attaintment (diukur dengan tingkat pendidikan yang berhasil ditamatkan), angka harapan hidup (life expectancy), tingkat fertilitas (fertility rate), tingkat kematian bayi (infant mortality rate), laju inflasi dan juga variabel dummy daerah juga terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Dari estimasi-estimasi yang dilakukan, diperoleh temuan bahwa variabel yang berpengaruh positif terhadap pertumbuhan adalah pendidikan, angka harapan hidup, dan tingkat kematian bayi. Sedangkan tingkat fertilitas dan laju inflasi memberikan efek negatif terhadap tingkat pertumbuhan pendapatan .
Berdasarkan data Indonesia Human Development Report 2002, tahun 2002 di Indonesia terdapat 341 daerah tingkat II, Aloysius Gunadi Brata (2004), dikatakan bahwa terdapat two-way relationship antara kinerja ekonomi daerah dengan pembangunan manusia .
Ketiga studi di atas juga mengkonfirmasi bahwa technical progress dalam bentuk modal manusia (human capital) mempunyai kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi dan berarti juga berguna untuk mempercepat proses pemerataan pendapatan antardaerah.
Dengan melihat teori dan kajian empirik diatas menunjukkan bahwa bagi pemerintah pusat, ketidakmerataan antarregion dan ketidakmerataan intraregion bukan merupakan trade off yang saling meniadakan. Karena kedua ketidakmerataan regional tersebut merupakan masalah yang harus diselesaikan karena terdapat keterkaitan antar kedua permasalahan tersebut.
2. Faktor-faktor penyebab ketimpangan
Ada 2 faktor penyebab ketimpangan pembangunan, faktor pertama
adalah karena ketidaksetaraan anugerah awal (initial endowment) diantara
pelaku-pelaku ekonomi. Sedangkan faktor kedua karena strategi pembangunan dalam
era PJP I lebih bertumpu pada aspek pertumbuhan (growth).
Sebagian ketidaksetaraan anugerah awal itu bersifat alamiah
(natural) atau bahkan ilahiah. Akan tetapi sebagian lagi bersifat structural.
Ketidaksetaraan itu berakibat peluang dan harapan untuk berkiprah dalam
pembangunan menjadi tidak seimbang.
Ditumpukkannya strategi pembangunan pada aspek petumbuhan,
bukanlah tidak beralasan. Secara akademik, baru pertumbuhanlah yang telah
memiliki teori-teori yang mantap dalam konsep pertumbuhan ekonomi. Oleh
karenanya tidaklah mengherankan kalau rancangan pebangunan lebih menyandarkan
rencana pembangunannya pada aspek pertumbuhan.
3. Pembangunan Indonesia bagian Timur
Pembangunan infrastruktur di
Indonesia mengalami pasang surut terutama saat Indonesia dilanda krisis
ekonomi. Pembangunan infrastruktur mengalami hambatan pembiayaan karena sampai
sejauh ini, titik berat pembangunan masih difokuskan pada investasi
sektor-sektor yang dapat menghasilkan perputaran uang (cash money) yang tinggi
dengan argumentasi bahwa hal itu diperlukan guna memulihkan perekonomian
nasional.
Sedangkan pembangunan infrastruktur
lebih difokuskan pada usaha perbaikan dan pemeliharaan saja. Dengan demikian
dewasa ini, pembangunan infrastruktur kawasan timur Indonesia belum menjadi
focus utama pembangunan.
Pada saat ini sudah hampir menjadi
kesimpulan umum bahwa infrastruktur adalah fundamental perekonomian Indonesia.
Bahwa daerah atau kawasan Indonesia Timur merupakan wilayah strategis guna
membangkitkan potensi nasional. Oleh karena itu hari ini adalah saat yang tepat
guna meletakkan kemauan bersama menyusun konsep pembangunan infrstruktur
kawasan Timur Indonesia yang bersumber pada kesadaran penguasaan teknologi dan
keunggulan sumberdaya daerah.
Pemetaan kebutuhan infrastruktur lima
tahun ke depan berdasarkan jenis inftrastruktur seperti; jalan, listrik, gas,
air bersih, pelabuhan, telekomunikasi, moda transportasi, dan lain-lain serta
berdasarkan tipologi kewilayahan.
Perumusan pembiayaan infrastruktur dan sumber pembiayaannya.
Pengkajian kerangka regulasi yang ada dan merekomendasikan penyempurnaan kerangka tersebut guna mendukung prioritas pembangunan dan pembiayaan infrastruktur
Perumusan pembiayaan infrastruktur dan sumber pembiayaannya.
Pengkajian kerangka regulasi yang ada dan merekomendasikan penyempurnaan kerangka tersebut guna mendukung prioritas pembangunan dan pembiayaan infrastruktur
Penyusunan strategi pembangunan dan
pembiayaan infrastruktur ini diharapkan dapat menghasilkan peta pembangunan
infrastruktur yang jelas di masa yang akan datang sehingga pemerintah mempunyai
dokumen yang lengkap terhadap pembangunan infrastruktur.
Oleh karena itu, ruang lingkup dari
penyusunan strategi ini mencakup seluruh aspek potensi ekonomi wilayah
Indonesia Timur sebagai rumusan strategis pembangunan infrastruktur nasional,
baik berdasarkan subsektor jenis infrastruktur dan maupun tipologi kewilayahan
dengan basis pendekatan potensi.
Penyusunan strategi pembangunan dan
pembiayaan infrastruktur kawasan timur Indonesia diharapkan dapat menghasilkan
Master Plan di bidang infrastruktur yang akan mendukung skenario pembangunan
era baru ekonomi Indonesia di masa yang akan datang. Master Plan ini diharapkan
dapat memuat berbagai data dan informasi mengenai pembangunan dan pembiayaan
infrastruktur berdasarkan skala prioritas pembangunan dan regulasi yang
mendukung arah pembangunannya.
Cerminan pembangunan infrastruktur
nasional adalah pembangunan infrastruktur di tiap wilayah atau propinsi di
Indonesia. Perkembangan pembangunan infrastruktur di masing-masing pulau di
Indonesia memperlihatkan perbedaan yang cukup berarti. Dominasi pembangunan
infrastruktur sangat ditentukan oleh kondisi geograsfis dan demografis dari
suatu wilayah.
Dominasi infrastruktur ini dapat
mencerminkan pula tingkat aktivitas ekonomi dalam suatu wilayah. Perkembangan
pembangunan infrastruktur untuk masing-masing pulau yang ada di Indonesia. Hal
ini pula yang menjadi hambatan pembangunan infrastrukrur Kawasan Timur
Indonesia.
Pada hal sejatinya jika Indonesia
ingin percepatan mencapai kemajuan maka pendekatan potensi atau potential
approach yaitu potensi yang mendorong tumbuhnya komoditas unggulan, hendaknya
menjadi komintmen kuat terhadap pembangunan infrstruktur kawasan timur
Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui bahwa daerah
Kalimantan Selatan sebagaimana daerah Kalimantan umumnya yang merupakan salah
satu pulau terbesar yang ada di wilayah negara kita. Tingkat kepadatan
pendudukanya relative rendah sehingga tidak dimungkinkan untuk melakukan
pendekatan demographic dalam perencanaan pembangunan infrastukturnya.
Dengan jumlah penduduk yang mendiami
wilayah ini hanya sebesar 6% dari total penduduk Indonesia, maka akan berdampak
pada aktivitas ekonomi yang ada di wilayah ini. Kondisi semacam ini merupakan
kondisi tipikal wilayah Indonesia Timur. Karenanya diperlukan langkah potential
approach atau pendekatan potensial untuk pembangunan infrastrukturnya
Komoditas yang menjadi unggulan untuk
wilayah ini adalah sektor pertambangan dan galian, sub sector perkebunan dan
subsektor kehutanan. Ketiga sektor ini memberikan sumbangan besar bagi
pendapatan nasional.
Dengan demikian terdapat pandangan
berbeda mengenai pola perencanaan bahwa berdasarkan jumlah penduduk atau
pendekatan demografik, aktivitas ekonomi unggulan yang tidak memerlukan banyak
infrastruktur, maka akibatnya adalah persentase pembangunan infrastruktur di
pulau ini lebih rendah dibandingkan pulau Jawa dan Sumatera.
Dilihat dari infrastruktur
transportasi, pelabuhan laut lebih mendominasi dibandingkan dengan yang
lainnya. Hal ini sangat wajar dengan kondisi geografis dari Kalimantan yang
lebih banyak rawa dibandingkan dengan daratannya yang memungkinkan sektor
pelabuhan laut dan lalulitas angkutan sungai, danau, dan penyeberangan lebih
berkembang dibandingkan dengan transportasi darat.
Pembangunan jalan di pulau ini masih
relative rendah bila dibandingkan dengan luas wilayah pulau ini. Hal ini sangat
signifikan sekali dengan jumlah kendaraan yang berada di wilayah ini hanya
sebesar 5,8% dari jumlah kendaraan yang ada di Indonesia. Hal ini pula yang
menyebabkan rendahnya tingkat mobilitas dan tingginya biaya transportasi
sehingga wilayah ini kehilangan daya saingnya dalam menarik investasi.
Pandangan keliru juga terdapat pada
subsektor pertanian tanaman pangan dan pengairan. Dapat kita temukan fakta
bahwa irigasi tidak menjadi salah satu fokus pembangunan infrastruktur karena
wilayah ini bukan sebagai lumbung padi tetapi lebih cenderung pada komoditas
kehutanan dan perkebunan.
Pada pada sisi lain kitapun memehami
betul bahwa kondisi wilayah ini sangat dimungkinkan membangun jaringan irigasi
guna menjadikan Kalimantan sebagai lumbung padi. Kita dapat belajar dan
membandingkan kondisi wilayah ini dengan kondisi Vietnam yang petaninya lebih
unggul dari petani kita bahkan tanpa proteksionisme perdagangan.
Saat ini akses masyarakat Kalimantan
terhadap air bersih, hanya sebesar 44% yang dapat menikmati air bersih
sedangkan sisanya belum mendapatkan akses terhadap air bersih.
Ini merupakan salah satu permasalahan
yang harus menjadi perhatian, karena bila kondisi tersebut dibiarkan maka akan
berdampak pada tingkat kesehatan dari masyarakat di Kalimantan. Bagaimana kita
bisa mengembangkan sumber daya manusia yang handal dan mampu bersaing secara
global bila tingkat hiegenitas masih rendah. Oleh karena itu akses terhadap air
bersih perlu langkah prioritas pembangunan infrastrukturnya.
Demikian pula dengan subsektor
telematika dan ketenagalistrikan perlu berpacu dengan irama pertumbuhan yang
berkembang dengan pesat. Hal ini sejalan dinamika dan aktivitas dari masyarakat
di pulau Kalimantan.
Pembukan lahan menjadi lahan
pertanian yang notabene terjadi perubahan fungsi seringkali memicu kotroversi
yang kontraproduktif, hendaknya dipelajari kembali dengan seksasama agar tidak
terdapat resistensi pembangunan hanya sekadar penolakan emosional, namun
sebaliknya kehilangan informasi berharga tentang potensi ekonomi yang mempunyai
keunggulan tertentu.
Akhirnya kita juga mengapeal akan
pentingnya kesadaran tentang pembangunan infrastruktur berkaitan dengan upaya
strategis percepatan pertumbuhan ekonomi, hendaknya secara nyata mengurangi
hambatan birokratis di semua lini baik pada tingkat pemerintah pusat maupun
pada tingkat pemerintah daerah dan pemerintah kabupaten.
4. Teori dan Analisis Pembangunan Ekonomi Daerah
Perbedaan karakteristik wilayah berarti
perbedaan potensi yang dimiliki, sehingga membutuhkan perbedaan kebijakan untuk
setiap wilayah. Untuk menunjukkan adanya perbedaan potensi ini maka dibentuklah
zona-zona pengembangan ekonomi wilayah.
Zona Pengembangan Ekonomi Daerah adalah
pendekatan pengembangan ekonomi daerah dengan membagi habis wilayah sebuah
daerah berdasarkan potensi unggulan yang dimiliki, dalam satu daerah dapat
terdiri dari dua atau lebih zona dan sebuah zona dapat terdiri dari dua atau
lebih cluster. Setiap zona diberi nama sesuai dengan potensi unggulan yang
dimiliki, demikian pula pemberian nama untuk setiap cluster, misalnya : Zona
Pengembangan Sektor Pertanian yang terdiri dari Cluster Bawang Merah, Cluster
Semangka, Cluster Kacang Tanah, dst.
Zona pengembangan ekonomi daerah (ZPED) adalah
salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk membangun ekonomi suatu daerah
untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat di masa depan. Pola pembangunan
ekonomi dengan pendekatan Zona Pengembangan Ekonomi Daerah (ZPED), bertujuan:
1. Membangun
setiap wilayah sesuai potensi yang menjadi keunggulan kompetitifnya/kompetensi
intinya.
2. Menciptakan
proses pembangunan ekonomi lebih terstruktur, terarah dan berkesinambungan.
3. Memberikan
peluang pengembangan wilayah kecamatan dan desa sebagai pusat-pusat pertumbuhan
ekonomi daerah.
Hal ini sejalan dengan strategi pembangunan
yang umumnya dikembangkan oleh para ahli ekonomi regional dewasa ini. Para ahli
sangat concern dengan ide pengembangan ekonomi yang bersifat lokal, sehingga
lahirlah berbagai Strategi Pembangunan Ekonomi Lokal (Local Economic
Development/LED).
Strategi ini terangkum dalam berbagai teori
dan analisis yang terkait dengan pembangunan ekonomi lokal. Salah satu analisis
yang relevan dengan strategi ini adalah Model Pembangunan Tak Seimbang, yang
dikemukakan oleh Hirscman :
“Jika kita mengamati proses pembangunan yang
terjadi antara dua priode waktu tertentu akan tampak bahwa berbagai sektor
kegiatan ekonomi mengalami perkembangan dengan laju yang berbeda, yang berarti
pula bahwa pembangunan berjalan dengan baik walaupun sektor berkembang dengan
tidak seimbang. Perkembangan sektor pemimpin (leading sector) akan merangsang
perkembangan sektor lainnya. Begitu pula perkembangan di suatu industri
tertentu akan merangsang perkembangan industri-industri lain yang terkait
dengan industri yang mengalami perkembangan tersebut”.
Model pembangunan tak seimbang menolak
pemberlakuan sama pada setiap sektor yang mendukung perkembangan ekonomi suatu
wilayah. Model pembangunan ini mengharuskan adanya konsentrasi pembangunan pada
sektor yang menjadi unggulan (leading sector) sehingga pada akhirnya akan
merangsang perkembangan sektor lainnya.
Terdapat pula analisis kompetensi inti (core
competiton). Kompetensi inti dapat berupa produk barang atau jasa yang andalan
bagi suatu zona/kluster untuk membangun perekonomiannya. Pengertian kompetensi
inti menurut Hamel dan Prahalad (1995) adalah :
“Suatu kumpulan kemampuan yang terintegrasi
dari serangkaian sumberdaya dan perangkat pendukungnya sebagai hasil dari
proses akumulasi pembelajaran, yang akan bermanfaat bagi keberhasilan bersaing
suatu bisnis”.
Sedangan menurut Reeve (1995) adalah :
“Aset
yang memiliki keunikan yang tinggi, sulit ditiru, keunggulan daya saing
ditentukan oleh kemampuan yang unik, sehingga mampu membentuk suatu kompetensi
inti”.
5.
Otonomi Daerah
Otonomi Daerah adalah
wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah, yang melekat pada
Negara kesatuan maupun pada Negara federasi. Di Negara kesatuan otonomi daerah
lebih terbatas dari pada di Negara yang berbentuk federasi. Kewenangan
mengantar dan mengurus rumah tangga daerah di Negara kesatuan meliputi segenap
kewenangan pemerintahan kecuali beberapa urusan yang dipegang oleh Pemerintah
Pusat seperti
1. Hubungan
luar negeri
2. Pengadilan
3. Moneter
dan keuangan
4. pertahanan
dan keamanan
Otonomi Daerah adalah
wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah, yang melekat pada
Negara kesatuan maupun pada Negara federasi. Di Negara kesatuan otonomi daerah
lebih terbatas dari pada di Negara yang berbentuk federasi. Kewenangan mengantar
dan mengurus rumah tangga daerah di Negara kesatuan meliputi segenap kewenangan
pemerintahan kecuali beberapa urusan yang dipegang oleh Pemerintah Pusat
seperti
1. Hubungan
luar negeri
2. Pengadilan
3. Moneter
dan keuangan
4. Pertahanan
dan keamanan
sumber : http://jammyjack.blogspot.com/2011/03/bab-5-pembangunan-ekonomi-daerah-dan.html
http://dizclusters.wordpress.com/2011/04/17/rangkuman-perekonomian-indonesia-bi-2/
NAMA : AMALIA FEBRY
KELAS : 1EB03
NPM : 20213757
Tidak ada komentar:
Posting Komentar