Bidang
Kesejahteraan Sosial
Disini akan dibahas sudah berhasilkah pemerintahan SBY
dalam mensejahterahkan masyarakat? Pertanyaan tersebut seolah menjadi tolak
ukur keberhasilan kinerja pemerintahan SBY. Seperti yang diketahui
Mensejahterahkan kehidupan bangsa merupakan tujuan dari Negara ini seperti yang
diamanatkan dalam alinea ke empat pembukaan UUD 1945.[2] Pada
masa kampanye pilpres duet SBY JK menjanjikan menekan angka kemiskinan
serendah-rendahnya
Demi mencapai target tersebut Pemerintahan SBY membuat
program Kesejahteraan rakyat yang dikhususkan pada pengurangan tingkat kemiskinan
yang difokuskan melalui 3 klaster program penanggulangan kemiskinan,
yaitu: Klaster Pertama: upaya pengentasan kemiskinan dengan bentuk program
bantuan dan perlindungan sosial terpadu berbasis keluarga, yang dilakukan
agar mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin, dan perbaikan kualitas
hidup keluarga miskin. Program utamanya adalah Beras Miskin (Raskin),
Jamkesmas, Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Operasional Sekolah (BOS),
dan Bantuan Siswa Miskin (BSM). Klaster Kedua: Program penanggulangan
kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui program PNPM Mandiri. Klaster
Ketiga: Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha ekonomi
mikro dan kecil (UMK) yang bertujuan untuk membuka dan memberikan akses
permodalan dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil
dengan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). [3]
Namun apakah program tadi dinilai berhasil dalam pengentasan tingkat kemiskinan?. Tentunya jawabannya akan terjawab Jika diperlihatkan data yang berhasil penulis himpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai tingkat kemiskinan di Indonesia.
.[4]

Dari data tersebut bisa ditafsirkan di era
pemerintahan SBY, hanya berhasil menurunkan angka kemiskan
sebesar 2,55% persen saja, dengan rincian presentase angka kemiskinan pada
tahun 2004 sebesar 16,7% dan sampai akhir periode pertama era pemerintahan SBY
sebesar 14,15% pada tahun 2008. Patut dicermati juga pada tahun 2006 angka
kemiskinan yang diharapkan berkurang malah tambah naik, hal ini diakibatkan
oleh kebijakan pemerintahan SBY yang menaikan Harga BBM yang secara tidak
langsung berdampak pada harga barang ikut naik. Jika dibandingkan dengan Mantan
Presiden Gus Dur soal menekan angka kemiskinan, pemerintahan SBY masih kalah.
Dalam rentang masa kepimpinannya selama tahun 1999-2001 Gus Dur berhasil
menurunkan angka kemiskinan sebesar 10,7%, Ini menunjukan selama tiga
tahun masa jabatan pemerintahan SBY belum bisa berhasil
mengatasi masalah kemiskinan secara tuntas dan secara otomatis janji
menekan angka kemiskinan serendah rendahnya pada saat kampanye gagal.
Pada periode kedua kepemimpinannya Duet SBY- Boediono
saat kampanye pilpres 2009 berjanji Kemiskinan harus turun 8-10 persen dengan
meningkatkan pembangunan pertanian, perdesaan dan program pro rakyat sehingga
kesejahteraan rakyat meningkat. jika dilihat data BPS diatas maka janji
dari SBY-Boediono yang menargetkan kemiskinan turun 8-10% sulit terealisasi. Karena
berdasarkan data tersebut sampai tahun 2012 pemerintahan SBY hanya berhasil
menurunkan angka kemiskinan yakni 3,94 % saja. Memang data tersebut hanya
sampai tahun 2012 menarik ditunggu sampai akhir masa jabatannya pada tahun 2014
nanti, apakah pemerintahan SBY berhasil merealisasikan janjinya seperti apa
yang saat dikampanyekan.
Selain masalah kemiskinan tadi, masalah dibidang
pendidikan sangatlah menarik untuk dianalisa sebab tingkat pendidikan
berpengaruh dalam proses kesejahteraan rakyat. Pada era kepemimpinannya SBY,
pemerintah membuat sejumlah kebijakan dibidang pendidikan yakni salah satunya
adalah pemanfaatan Anggaran dari APBN sebesar 20%dengan tujuan pendidikan
gratis selama pendidikan dasar dan menengah pertama (SD dan SMP) serta
pendidikan terjangkau selama pendidikan menengah keatas (SMA) serta perbaikan
infrastruktur dan sarana prasarana Sekolah. Angka 20% dalam APBN bukanlah angka
yang kecil, bahkan bisa dibilang terbesar dibanding yang lainnya. Namun apakah
anggaran dan program tadi berhasil dijalankan dengan baik oleh pemerintah?
Jawabannya bisa dilihat dari penelitian yang dilakukan ICW. ICW menyebutkan
pendidikan di Indonesia bukan hanya mahal, namun fasilitasnya juga buruk,
selain itu masih ditemukan praktik penjualan buku yang dilakukan oleh pihak
sekolah.[5] hal ini
juga dirasakan penulis dimana saat itu tempat penulis menimba ilmu masih saja
menjual buku pelajaran. Sepertinya anggaran tadi hanya dinikmati oleh kalangan
Guru PNS saja. Bisa dilihat sejak era pemerintahan SBY banyak guru yang lebih
sejahtera hidupnya dibanding saat era presiden sebelumnya. Hal ini dibuktikan
oleh adanya Gaji tiga belas dan sertifikasi guru.
Sumber :
http://badarifin.blogspot.com/2014/04/kinerja-pemerintah-indonesia-di-bawah.html?m=1
Nama : Amalia febry
kelas : 1EB03
Npm : 20213757
Tidak ada komentar:
Posting Komentar